Selasa, 02 Februari 2021

MATERI 2 : ROUTING ( STATIC & DYNAMIC )

 


A.    PENGERTIAN

Routing adalah proses pengiriman data dari satu host dalam satu network ke host dalam network yang lain melalui suatu router. Agar router dapat mengetahui bagaimana meneruskan paket paket ke alamat yang dituju dengan mengunakan jalur terbaik, router menggunakan peta atau tabel routing. Table routing adalah table yang memuat seluruh informasi IP address dari interfaces router yang lain sehingga router yang satu dengan router lainnya bisa berkomunikasi.

Bila kita mengacu pada pemodelan OSI (Open System Interconnection), maka proses routing terjadi pada Layer 3 (Network Layer). Karena terjadi pada Layer Network, maka proses routing erat kaitannya dengan pengalamatan logika atau IP Address. Untuk bentuk data yang akan diolah pada proses routing adalah packet yang merupakan Protocol Data Unit (PDU) di Layer 3, dimana Protocol Data Unit yang diolah di Layer 1 disebut bit, Layer 2 disebut frame, Layer3 disebut packet, Layer 4 disebut segmen sedangkan Layer 5 sampai 7 disebut data.

Didalam tabel routing informasi routing akan disimpan dalam bentuk entry-entry route (rute). Setiap entry route akan menunjukkan network address dari network yang dapat dituju oleh router tersebut. Entry route ini juga berisi tentang informasi bagaimana cara mencapai network tersebut. Entry Route pada tabel routing tersebut dapat dibuat atau dikonfigurasi secara manual oleh Administrator jaringan atau dapat juga diperoleh router secara otomatis dengan melakukan pertukaran informasi routing dengan router lain.

    STATIC ROUTING

Static routing (Routing Statis) adalah sebuah router yang memiliki tabel routing statik yang di setting secara manual oleh para administrator jaringan. Routing static pengaturan routing paling sederhana yang dapat dilakukan pada jaringan komputer. Menggunakan routing statik murni dalam sebuah jaringan berarti mengisi setiap entri dalam forwarding table di setiap router yang berada di jaringan tersebut. Penggunaan routing statik dalam sebuah jaringan yang kecil tentu bukanlah suatu masalah, hanya beberapa entri yang perlu diisikan pada forwarding table di setiap router. Namun Anda tentu dapat membayangkan bagaimana jika harus melengkapi forwarding table di setiap router yang jumlahnya tidak sedikit dalam jaringan yang besar.

    DYNAMIC ROUTING

Dynamic Routing (Router Dinamis) adalah sebuah router yang memiliki dan membuat tabel routing secara otomatis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan juga dengan saling berhubungan antara router lainnya. Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat berkomunikasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah isi forwarding table, tergantung keadaan jaringannya. Dengan cara ini, router-router mengetahui keadaan jaringan yang terakhir dan mampu meneruskan data ke arah yang benar. Dengan kata lain, routing dinamik adalah proses pengisian data routing di table routing secara otomatis.

Dynamic router mempelajari sendiri Rute yang terbaik yang akan ditempuhnya untuk meneruskan paket dari sebuah network ke network lainnya. Administrator tidak menentukan rute yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut. Administrator hanya menentukan bagaimana cara router mempelajari paket, dan kemudian router mempelajarinya sendiri. Rute pada dynamic routing berubah, sesuai dengan pelajaran yang didapatkan oleh router.


B.     KONFIGURASI PADA PACKET TRACER

1.      KONFIGURASI ROUTING STATIC

1)   Topologi

2)   Konfigurasi IP pada PC , PC->Desktop->IP Configuration

PC 0 :
IP Address -> 192.168.10.1
Subnet Mask -> 255.255.255.0
Gateway -> 192.168.10.2 (IP Router)

PC1 :
IP Address -> 192.168.20.1
Subnet Mask -> 255.255.255.0
Gateway -> 192.168.20.2 (IP Router)

PC2 :
IP Address -> 192.168.30.1
Subnet Mask -> 255.255.255.0
Gateway -> 192.168.30.2 (IP Router)

 

3)   Konfigurasi IP pada Router, Router->CLI

 

->enable => masuk ke router
#conf t => masuk menu konfigurasi
#interface gig0/0 => konfigurasi interface gigabit ethernet 0/0
#ip address 192.168.10.2 255.255.255.0 => menambahkan ip dan subnet pada interface gig0/0
#interface se0/1/0 => konfigurasi interface serial 0/1/0
#ip address 10.10.10.1 255.255.255.0 => menambahkan ip dan subnet pada se0/1/0
#no shutdown => mengaktifkan interface yang telah di konfigurasi


Lakukan langkah yang sama pada Router1 dan Router2 dengan IP :


Router1 :
-Interface Gig0/0 -> IP = 192.168.20.2 -> Subnet = 255.255.255.0
-Interface Se0/1/0 -> IP = 10.10.10.2 ->Subnet = 255.255.255.252
-Interface Se0/1/1-> IP = 20.20.20.1 -> Subnet = 255.255.255.252


Router2 :
-Interface Gig0/0 -> IP = 192.168.30.2 -> Subnet = 255.255.255.0
-Interace Se0/1/0 -> IP = 20.20.20.2 -> Subnet = 255.255.255.252


4)   Konfigurasi Static Routing pada Router

Untuk setting static routing di cisco packet tracer menggunakan perintah :


#ip route [destination] [subnet] [next hop address]


Keterangan :
-ip route : perintah membuat tabel routing static
-destination : network jaringan yang dituju
-subnet : subnet mask jaringan yang dituju
-next hop address : ip dari router yang akan dilewati

Lakukan hal yang sama pada Router1 dan Router2 dengan ketentuan :

Router 1 :
#ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 10.10.10.1
#ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 20.20.20.2

Router2 :
#ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 20.20.20.1
#ip route 192.168.20.0 255.255.255.0 20.20.20.1


2.      KONFIGURASI ROUTING DINAMIS

1.    Klik di Router 0 masuk di Tab CLI ketik No kemudian enter

2.    Kemudian ketikan perintah pada sintak di bawah ini untuk memberikan IP address di FastEthernet 0/0 (yang tebal itu yang diketik)

Router>enable
Router#configure
Router(config)#interface fa0/0
Router(config-if)#ip add 192.168.1.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, Change state to up
Router(config-if)#exit
Router(config)

3.    Masih di Router 0 lanjutkan untuk memberikan IP address pada Serial2/0

Router(config)#interface serial2/0
Router(config-if)#ip add 10.10.10.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial2/0, Change state to up
Router(config-if)#clock 64000
Router(config-if)#exit
Router(config)

4.    Lakukan cara yang sama untuk memberikan IP address pada Router 1 di bagian FastEthernet0/0 dan Serial2/0.

Router>enable
Router#configure
Router(config)#interface fa0/0
Router(config-if)#ip add 172.16.16.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, Change state to up
Router(config-if)#exit
Router(config)#interface serial2/0
Router(config-if)#ip add 10.10.10.2 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial2/0, Change state to up
Router(config-if)#clock 64000
Router(config-if)#exit
Router(config

5.    Sampai disini sobat sudah bisa melakukan pengecekan keterhubungan antara Router 0 dengan Router 1

Router>enable
Router#ping 10.10.10.2
Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.10.10.2, timeout is 2 seconds: !!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 1/3/14 ms
Router#

6.  Tahapan selanjutnya adalah melakukan Routing Dinamik pada Router 0 dengan sintak di bawah ini

Router>enable
Router#configure
Router(config)#router rip
Router(config)#network 192.168.1.0
Router(config)#network 10.10.10.0
Router(config)#end

7.    Lakukan untuk cara yang sama untuk Router 1

Router>enable
Router#configure
Router(config)#router rip
Router(config)#network 172.16.16.0
Router(config)#network 10.10.10.0
Router(config)#end

8.    Untuk konfigurasi Router sudah kita selesaikan, selanjutnya kita berikan IP address, netmask dan gateway untuk PC0 dan PC1.

PC0
ip address : 192.168.1.5
netmask : 255.255.255.0
gateway : 192.168.1.1

PC1
ip address : 172.16.16.5
netmask : 255.255.0.0
gateway : 172.16.16.1

9.    Tahapan selanjutnya adalah proses pengecekan keterhubungan. Gunakan perintah ping untuk mengetahui koneksi antara PC dengan Router ataupun sebaliknya. Gambar di bawah ini adalah hasil screenshot pengetesan.


C.    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

            1.      ROUTING STATIC

KELEBIHAN

KEKURANGAN

Meringankan kinerja dari prosesor router karena pemrosesan sudah tersebar pada setiap router.

Network admin harus mengetahui segala informasi tentang router yang tersambung.

Menghemat bandwidth karena tidak ada bandwidth yang terbuang saat terjadi pertukaran paket.

Hanya bisa untuk jaringan berskala kecil

Memperoleh informasi dari isi tabel routing pada saat terjadi proses tukar menukar paket.

Konfigurasi lebih rumit apalagi kalau banyak komputer yang terhubung

Routing statis lebih aman

Membutuhkan waktu konfigurasi yang lebih lama

Administrator bebas menentukan jalur jaringan

Jika ada jalur yang rusak jaringan akan terhenti


    
 2.     
ROUTING DYNAMIC

KELEBIHAN

KEKURANGAN

Proses konfigurasi jaringan lebih cepat

Bandwidth yang dibutuhkan lebih besar

Bisa digunakan untuk jaringan berskala besar

Jalur yang bisa menentukan adalah sistem bukan dari administrator

Jika ada jalur yang rusak tetap aman

Membutuhkan RAM yang lebih besar untuk menentukan jalur terbaik saat terjadi down

Jalur ditentukan secara otomatis oleh sistem

-

 

D.     PERBEDAAN ROUTING STATIC DAN ROUTING DYNAMIC

ROUTING STATIC

ROUTING DYNAMIC

Berfungsi pada protocol IP

Berfungsi pada inter-routing protocol

Router tidak dapat membagi informasi routing

Router membagi informasi routing secara otomatis

Routing table dibuat dan dihapus secara manual

Routing table dibuat dan dihapus secara otomatis

Tidak menggunakan routig protocol

Terdapat routing protocol, seperti RIP atau OSPF

Microsoft mendukung multihomed system  seperti router

Microsoft mendukung RIP untuk IP dan IPX/SPX

 


1 komentar:

MATERI 7 : LOAD BALANCING

A. PENGERTIAN           Dalam membangun layanan baik berupa website, aplikasi, database, networking maupun layanan layanan lain. Diperlukan ...