A. PENGERTIAN
Routing
adalah proses pengiriman data dari satu host dalam satu network ke host dalam
network yang lain melalui suatu router. Agar router dapat mengetahui bagaimana
meneruskan paket paket ke alamat yang dituju dengan mengunakan jalur terbaik,
router menggunakan peta atau tabel routing. Table routing adalah table yang
memuat seluruh informasi IP address dari interfaces router yang lain sehingga
router yang satu dengan router lainnya bisa berkomunikasi.
Bila
kita mengacu pada pemodelan OSI (Open System
Interconnection), maka proses routing terjadi pada Layer 3 (Network
Layer). Karena terjadi pada Layer Network, maka proses routing erat kaitannya
dengan pengalamatan logika atau IP Address. Untuk bentuk data yang akan diolah
pada proses routing adalah packet yang merupakan Protocol Data Unit
(PDU) di Layer 3, dimana Protocol Data Unit yang diolah di Layer
1 disebut bit, Layer 2 disebut frame, Layer3 disebut packet,
Layer 4 disebut segmen sedangkan Layer 5 sampai 7 disebut data.
Didalam
tabel routing informasi routing akan disimpan dalam
bentuk entry-entry route (rute). Setiap entry
route akan menunjukkan network address dari network yang dapat dituju oleh
router tersebut. Entry route ini juga berisi tentang informasi
bagaimana cara mencapai network tersebut. Entry Route pada tabel
routing tersebut dapat dibuat atau dikonfigurasi secara manual oleh
Administrator jaringan atau dapat juga diperoleh router secara otomatis dengan
melakukan pertukaran informasi routing dengan router lain.
STATIC
ROUTING
Static
routing (Routing Statis) adalah sebuah router yang memiliki tabel routing
statik yang di setting secara manual oleh para administrator jaringan. Routing
static pengaturan routing paling sederhana yang dapat dilakukan pada jaringan
komputer. Menggunakan routing statik murni dalam sebuah jaringan berarti
mengisi setiap entri dalam forwarding table di setiap router yang berada di
jaringan tersebut. Penggunaan routing statik dalam sebuah jaringan yang kecil
tentu bukanlah suatu masalah, hanya beberapa entri yang perlu diisikan pada
forwarding table di setiap router. Namun Anda tentu dapat membayangkan
bagaimana jika harus melengkapi forwarding table di setiap router yang
jumlahnya tidak sedikit dalam jaringan yang besar.
DYNAMIC ROUTING
Dynamic
Routing (Router Dinamis) adalah sebuah router yang memiliki dan membuat
tabel routing secara otomatis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan
juga dengan saling berhubungan antara router lainnya. Protokol routing mengatur
router-router sehingga dapat berkomunikasi satu dengan yang lain dan saling
memberikan informasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi
routing yang dapat mengubah isi forwarding table, tergantung keadaan
jaringannya. Dengan cara ini, router-router mengetahui keadaan jaringan yang terakhir
dan mampu meneruskan data ke arah yang benar. Dengan kata lain, routing
dinamik adalah proses pengisian data routing di table routing secara
otomatis.
Dynamic
router mempelajari sendiri Rute yang terbaik yang akan ditempuhnya untuk
meneruskan paket dari sebuah network ke network lainnya. Administrator tidak
menentukan rute yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut. Administrator
hanya menentukan bagaimana cara router mempelajari paket, dan kemudian router
mempelajarinya sendiri. Rute pada dynamic routing berubah, sesuai dengan
pelajaran yang didapatkan oleh router.
B. KONFIGURASI PADA PACKET TRACER
1. KONFIGURASI ROUTING STATIC
1) Topologi
2) Konfigurasi IP pada PC , PC->Desktop->IP Configuration
PC
0 :
IP Address -> 192.168.10.1
Subnet Mask -> 255.255.255.0
Gateway -> 192.168.10.2 (IP Router)
PC1 :
IP Address -> 192.168.20.1
Subnet Mask -> 255.255.255.0
Gateway -> 192.168.20.2 (IP Router)
PC2 :
IP Address -> 192.168.30.1
Subnet Mask -> 255.255.255.0
Gateway -> 192.168.30.2 (IP Router)
3) Konfigurasi
IP pada Router, Router->CLI
->enable => masuk ke router
#conf t => masuk menu konfigurasi
#interface gig0/0 => konfigurasi
interface gigabit ethernet 0/0
#ip address 192.168.10.2 255.255.255.0 => menambahkan ip dan subnet pada interface gig0/0
#interface se0/1/0 => konfigurasi
interface serial 0/1/0
#ip address 10.10.10.1 255.255.255.0 => menambahkan ip dan subnet pada se0/1/0
#no shutdown => mengaktifkan
interface yang telah di konfigurasi
Lakukan langkah yang sama pada Router1 dan Router2 dengan IP :
Router1 :
-Interface Gig0/0 -> IP = 192.168.20.2 -> Subnet = 255.255.255.0
-Interface Se0/1/0 -> IP = 10.10.10.2 ->Subnet = 255.255.255.252
-Interface Se0/1/1-> IP = 20.20.20.1 -> Subnet = 255.255.255.252
Router2 :
-Interface Gig0/0 -> IP = 192.168.30.2 -> Subnet = 255.255.255.0
-Interace Se0/1/0 -> IP = 20.20.20.2 -> Subnet = 255.255.255.252
4) Konfigurasi
Static Routing pada Router
Untuk setting static
routing di cisco packet tracer menggunakan perintah :
#ip route [destination] [subnet] [next
hop address]
Keterangan :
-ip route : perintah membuat tabel routing static
-destination : network jaringan yang dituju
-subnet : subnet mask jaringan yang dituju
-next hop address : ip dari router yang akan dilewati
Lakukan hal yang sama pada Router1 dan Router2 dengan ketentuan :
Router 1 :
#ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 10.10.10.1
#ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 20.20.20.2
Router2 :
#ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 20.20.20.1
#ip route 192.168.20.0 255.255.255.0 20.20.20.1
2. KONFIGURASI ROUTING DINAMIS
1. Klik
di Router 0 masuk di Tab
CLI ketik No kemudian enter
2. Kemudian
ketikan perintah pada sintak di bawah ini untuk memberikan IP address
di FastEthernet 0/0 (yang tebal itu yang diketik)
Router>enable
Router#configure
Router(config)#interface fa0/0
Router(config-if)#ip add
192.168.1.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, Change state to up
Router(config-if)#exit
Router(config)
3. Masih
di Router 0 lanjutkan untuk memberikan IP address pada Serial2/0
Router(config)#interface serial2/0
Router(config-if)#ip add
10.10.10.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial2/0, Change state to up
Router(config-if)#clock 64000
Router(config-if)#exit
Router(config)
4. Lakukan
cara yang sama untuk memberikan IP address pada Router 1 di
bagian FastEthernet0/0 dan Serial2/0.
Router>enable
Router#configure
Router(config)#interface fa0/0
Router(config-if)#ip add
172.16.16.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, Change state to up
Router(config-if)#exit
Router(config)#interface serial2/0
Router(config-if)#ip add
10.10.10.2 255.255.255.0
Router(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial2/0, Change state to up
Router(config-if)#clock 64000
Router(config-if)#exit
Router(config
5. Sampai
disini sobat sudah bisa melakukan pengecekan keterhubungan antara Router
0 dengan Router 1
Router>enable
Router#ping 10.10.10.2
Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.10.10.2, timeout is 2 seconds: !!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 1/3/14 ms
Router#
6. Tahapan selanjutnya adalah melakukan Routing
Dinamik pada Router 0 dengan sintak di bawah ini
Router>enable
Router#configure
Router(config)#router rip
Router(config)#network 192.168.1.0
Router(config)#network 10.10.10.0
Router(config)#end
7.
Lakukan
untuk cara yang sama untuk Router 1
Router>enable
Router#configure
Router(config)#router rip
Router(config)#network 172.16.16.0
Router(config)#network 10.10.10.0
Router(config)#end
8.
Untuk
konfigurasi Router sudah kita selesaikan, selanjutnya kita berikan IP address,
netmask dan gateway untuk PC0 dan PC1.
PC0
ip address : 192.168.1.5
netmask : 255.255.255.0
gateway : 192.168.1.1
PC1
ip address : 172.16.16.5
netmask : 255.255.0.0
gateway : 172.16.16.1
9.
Tahapan
selanjutnya adalah proses pengecekan keterhubungan. Gunakan
perintah ping untuk mengetahui koneksi antara PC dengan Router
ataupun sebaliknya. Gambar di bawah ini adalah hasil screenshot pengetesan.
C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
1.
ROUTING
STATIC
|
KELEBIHAN |
KEKURANGAN |
|
Meringankan
kinerja dari prosesor router karena pemrosesan sudah tersebar pada setiap
router. |
Network
admin harus mengetahui segala informasi tentang router yang tersambung. |
|
Menghemat
bandwidth karena tidak ada bandwidth yang terbuang saat terjadi pertukaran
paket. |
Hanya
bisa untuk jaringan berskala kecil |
|
Memperoleh
informasi dari isi tabel routing pada saat terjadi proses tukar menukar
paket. |
Konfigurasi
lebih rumit apalagi kalau banyak komputer yang terhubung |
|
Routing
statis lebih aman |
Membutuhkan
waktu konfigurasi yang lebih lama |
|
Administrator
bebas menentukan jalur jaringan |
Jika
ada jalur yang rusak jaringan akan terhenti |
2.
ROUTING
DYNAMIC
|
KELEBIHAN |
KEKURANGAN |
|
Proses
konfigurasi jaringan lebih cepat |
Bandwidth
yang dibutuhkan lebih besar |
|
Bisa
digunakan untuk jaringan berskala besar |
Jalur
yang bisa menentukan adalah sistem bukan dari administrator |
|
Jika
ada jalur yang rusak tetap aman |
Membutuhkan
RAM yang lebih besar untuk menentukan jalur terbaik saat terjadi down |
|
Jalur
ditentukan secara otomatis oleh sistem |
- |
D. PERBEDAAN ROUTING STATIC DAN
ROUTING DYNAMIC
|
ROUTING
STATIC |
ROUTING
DYNAMIC |
|
Berfungsi
pada protocol IP |
Berfungsi
pada inter-routing protocol |
|
Router
tidak dapat membagi informasi routing |
Router
membagi informasi routing secara otomatis |
|
Routing
table dibuat dan dihapus secara manual |
Routing
table dibuat dan dihapus secara otomatis |
|
Tidak
menggunakan routig protocol |
Terdapat
routing protocol, seperti RIP atau OSPF |
|
Microsoft
mendukung multihomed system seperti
router |
Microsoft
mendukung RIP untuk IP dan IPX/SPX |

Mantap jiwaa
BalasHapus